DRAMA ‘Short Moment’

•Desember 9, 2015 • Tinggalkan sebuah Komentar

Sometimes we see an emotional short moment from one person or few people in your environment around you.  You can name it ‘short film’ or we called it here ‘drama’.

hahaha. its not real movie or real film

it just a short moment of emotional shoot of a few of people you see in front of you or in television or hear from people who talk to you or hear from radio or reading in newspaper/magazine/e paper or etc

We thought it only in TV or social media or film Box Office, Now we realize that is not. It could be in our neighborhood, office, school, socialite, food area, public area, etc Even you friend could make drama in front of you too. Don’t be surprise of that, cause my best friend do that to me.

‘Cause we see it everywhere, as we knew and it makes us very difficult to distinguish between real or fake real (hahahaha You cant name it drama since we don’t know whether its reality or ‘drama’)

funny isn’t it.

You never know who is right or wrong, Never know the ending story, Never know who will take a granted for this scenario or will be a champion or will be looser, even you never know who create the scenario cause it never been publish ‘the story behind the scene’

Don’t take to much energy to understand the situation, just enjoy to watch it like you see movie in television/YouTube/internet or hear from your radio station or you read a storybook/storyteller/magazine/newspaper/e book.

You already grown up now .  Enjoy the show

Be your self.

Be nice to everyone cause we never know what will be happen next moment.

saya menemukan hati saya kembali

•Juni 19, 2014 • Tinggalkan sebuah Komentar

Kepada saya pernah dinasihatkan; jangan sampai kamu membiarkan hatimu menjadi buta, tuli, dan bisu. Mungkin nasihat itu terasa seperti sekedar basa-basi. Tetapi jika kita coba cermati, ternyata memang; hati manusia itu menentukan segala tindakan dan perbuatannya. Baik kepada diri sendiri, maupun orang lain. Orang-orang yang hatinya buta, tidak dapat melihat dampak merugikan yang ditimbulkan dari perilakunya yang buruk. Orang-orang yang hatinya tuli, tidak bisa mendengar jerit tangis orang lain. Dan orang-orang yang hatinya bisu, tidak mampu mengatakan bisik kebajikan bahkan
sekedar kepada dirinya sendiri. Jadi, sungguh berbahaya jika manusia sampai membiarkan hatinya menjadi buta, tuli, dan bisu. Sebab jika sudah demikian, kita yang menganggap diri sebagai mahluk mulia ini tidak akan malu lagi untuk melakukan apa saja. Seburuk apapun itu.
Karena kita pada dasarnya; tidak lagi memiliki hati nurani.

Saya ada sesi presentasi CRM dihadapan sekitar 50 orang sales force hari Jum’at kemarin. Dalam perjalanan menuju lokasi presentasi, radio mobil saya tuned in di sebuah stasiun. Setelah memutarkan beberapa lagu, penyiar bercerita tentang proses penggusuran sebuah pasar bunga yang sudah sejak jaman dahulu hadir disalah satu sudut kota Jakarta. Kemudian dia mengatakan bahwa diseberang telepon sudah tersambung seorang pedagang bunga sekaligus pemilik satu dari 108 buah kios yang dirobohkan budozer aparat pemerintah.

Ketika mendengar hal itu, hati saya biasa-biasa saja. Mungkin karena sudah terlampau sering saya mendengar kabar, membaca dikoran, atau menyaksikan lewat pesawat televisi; peristiwa-peristiwa penggusuran semacam itu. Isak tangis ibu-ibu pemilik gubuk atau kios. Kemarahan para lelaki yang tertindas. Semuanya sudah menjadi biasa. Jadi, saya tidak lagi merasakan itu sebagai sesuatu yang perlu dipedulikan.
Semuanya, biasa-biasa saja.

Pagi itu, tangan saya terasa enggan untuk sekedar memencet remote control agar berita tak bernilai itu tidak lagi terdengar ditelinga saya. Bosan rasanya. Tapi, mengapa tangan ini sama sekali tidak kuasa untuk meraih remore control itu? Seolah memaksa diri saya untuk mendengar percakapan radio itu. Baiklah, saya dengarkan saja.

“Pak Cahya,” demikian sang penyiar radio menyebut lelaki diseberang telepon. “Apa yang saat ini sedang terjadi disana?”
“Ya, disini aparat pemerintah sedang membumihanguskan kios-kios kami,” dia bercerita.
“Lalu apa yang anda dan rekan-rekan lakukan?” lanjutnya.
“Kami berbaris saja didepan pasar dengan damai sambil menyaksikan para petugas yang digaji dari retribusi yang kami bayar setiap hari itu merusak semua milik kami.” katanya. Telinga saya mulai terkesiap. Seperti telinga seekor anjing yang mendengar suara gemerisik ditengah kesunyian malam. “Sementara kami tidak kuasa menyaksikan mereka menginjak-injak kaum perempuan dan ibu-ibu.”
“A-apa yang Bapak maksudkan menginjak-injak kaum perempuan?”
“Dibarisan paling depan ada ibu-ibu yang duduk dengan damai sambil memegang bunga, lalu para petugas ….”

Saya tidak lagi dapat mendengar dengan jelas apa yang dikatakan pemilik kios bunga itu. Sebab, tiba-tiba saja saya merasakan mata ini berkaca-kaca. Ah, mengapa harus cengeng! Begitu hati saya memberontak. Tetapi, semakin dia melawan, semakin terang-terggambar dalam imajinasi saya suasana yang tengah terjadi dipasar bunga yang terusir itu. Saya memang beberapa kali menyaksikan proses penggusuran pasar dan rumah warga di berita-berita televisi. Dan, saat ini; tayangan demi tayangan itu berputar-putar diotak saya. Dan semakin kuat hati saya memberontak, semakin samar pandangan saya oleh air mata yang kini sudah meleleh dipipi kiri dan kanan.

Hey! Sudah sangat lama saya tidak menitikkan air mata. Mengapa hari ini saya melakukannya? Masihkah kamu seorang lelaki bersuara lantang itu? Kemana gerangan ketegaran dirimu pergi? Saya tidak tahu. Saya.
Tidak. Tahu. Yang saya tahu, dada saya tidak kuasa lagi menahan gejolak. Aneh, telinga saya mendengar suara seseorang yang tengah terisak. Padahal, didalam mobil itu hanya ada saya sendirian. Jadi, suara siapakah gerangan itu?

Sekitar jam delapan kurang lima belas menit, mobil yang saya kendarai melintasi pasar Jatinegara menuju ke arah Matraman. Ketika saya berhenti diperempatan yang tertahan oleh lampu merah, saya mendapati diri saya sudah menangis seperti seorang pencinta yang ditinggal pergi kekasih hatinya. Orang-orang yang menyeberang melintasi mobil mungkin mengira saya memang tengah patah hati. Para pengendara motor yang berjejer dikanan dan kiri menanti lampu hijau terheran-heran; mengapa ada lelaki berdasi yang tengah mengendari mobil sambil menangis? Tapi, ah. Biarkan saja. Mereka tidak mengerti apa yang saat ini tengah saya rasakan dalam hati ini. Saya biarkan saja hujan setempat itu terus mengguyur. Toh ada kertas tissue yang bisa digunakan untuk menyekanya kemudian.

Gerimis pagi itu mulai mereda ketika melintasi pasar kenari. Semua perasaan gundah itu hilang begitu saja. Aneh. Semuanya sirna kecuali kaca spion yang memantulkan bentuk mata sembab saya seolah tidak tidur selama berhari-hari. “Hey, kamu itu mau melakukan presentasi.”
saya berbisik sendiri. “Bagaimana bisa, dengan mata semacam itu?”
Ah, tidak apa-apa. Mata ini akan segera pulih kembali. Sebab, air mata yang baru saja dikeluarkannya itu memang untuk membasuh hati yang sudah buram ini. Sekarang, hati saya terasa ringan. Dan tiba-tiba saja, dia bisa melihat lebih terang. Mendengar lebih jelas. Dan berkata dengan suara yang lebih jernih. Saya sudah menemukan hati itu kembali.

Ketika saya menyeka wajah dihadapan cermin di toilet; saya melihat, mata itu sudah kembali seperti mata yang biasanya. Sama sekali tidak nampak disana sisa-sisa kegundahan. Yang ada, hanyalah perasaan lega. Karena hari ini, saya kembali diingatkan bahwa; hati tidak boleh dibiarkan mati.

Pagi itu, sebelum sesi presentasi dimulai, saya berkata kepada rekan yang bertugas menyiapkan slide-slide kami; “Tolong tambahkan satu slide lagi.”
“Isinya apa, Pak?” kata sahabat saya.
“Tuliskan disana: Bekerja Dengan Hati” kata saya. “Lalu, tolong carikan gambar hati, dan simpan di slide itu.” Kemudian sahabat saya melakukannya.
“Tolong jadikan itu sebagai slide pertama saya untuk presentasi pagi ini….” begitu saya menambahkan.

Ketika sesi itu tiba tepat jam sembilan pagi, saya memulainya dengan sebuah slide berisi gambar hati. Sungguh relevan dengan materi presentasi saya pagi ini, yaitu; memuliakan pelanggan. Memuliakan orang-orang disekitar kita. Dan memang benar. Langkah pertama yang harus kita lakukan untuk apapun adalah; membawa serta hati kita.

Bayangkan jika kita bisa membawa serta hati terhadap setiap pekerjaan yang kita lakukan. Apakah itu pekerjaan yang berhubungan dengan CRM seperti yang saya bawakan dipagi itu. Ataukah pekerjaan lain yang sehari-hari kita geluti. Pastilah, kita akan dengan ikhlas melakukannya. Benar, kita masih mengharapkan bayaran. Tidak apa-apa.
Sebab begitulah hukum pelayanan dalam konteks pekerjaan. Kita melayani. Dan orang yang kita layani memberikan bayarannya. Namun, dengan menyertakan hati kedalam pekerjaan; pastilah kita bersedia melakukan segala hal terbaik, untuk orang-orang yang kita layani. Tidak akan pernah terlintas dalam pikiran kita untuk melakukannya asal-asalan. Apalagi merugikan orang lain. Menipu. Menindas. Memperdayai. Menjerumuskan. Tidak.

Dengan membawa hati nurani; kita tidak hanya sekedar bekerja demi mendapatkan keuntungan pribadi. Dengan membawa hati nurani; kita pasti selalu bisa memberi nilai manfaat kepada diri kita sediri.
Kepada orang lain. Kepada perusahaan yang mempekerjakan kita. Dan, yang terlebih penting lagi adalah; kepada saat dimana kita harus berhadapan dengan sang pemberi hidup. Yaitu, saat dimana Dia bertanya kepada kita; Apa yang telah kamu lakukan dengan hidup yang kuanugerahkan kepada dirimu?.

dkadarusman

guardian angel

•November 19, 2011 • Tinggalkan sebuah Komentar

guardian angel

I believe when someone fallen there is always guardian angel who ready to help us to stand up again

only if only someone want to stand up or not

Masih ada Harapan Sembuh

•Desember 30, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Ada sekitar 30%-40% penderita stroke yang masih dapat sembuh secara sempurna asalkan ditangani dalam jangka waktu 6 jam atau kurang dari itu. Hal ini penting agar penderita tidak mengalami kecacatan. Kalaupun ada gejala sisa seperti jalannya pincang atau berbicaranya pelo, namun gejala sisa ini masih bisa disembuhkan.

Sayangnya, sebagian besar penderita stroke baru datang ke rumah sakit 48-72 jam setelah terjadinya serangan. Bila demikian, tindakan yang perlu dilakukan adalah pemulihan. Tindakan pemulihan ini penting untuk mengurangi komplikasi akibat stroke dan berupaya mengembalikan keadaan penderita kembali normal seperti sebelum serangan stroke.

Upaya untuk memulihkan kondisi kesehatan penderita stroke sebaiknya dilakukan secepat mungkin, idealnya dimulai 4-5 hari setelah kondisi pasien stabil. Tiap pasien membutuhkan penanganan yang berbeda-beda, tergantung dari kebutuhan pasien. Proses ini membutuhkan waktu sekitar 6-12 bulan.

http://www.medicastore.com/stroke/Masih_Ada_Harapan_Sembuh.php

Penanganan Stroke

•Desember 30, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Jika mengalami serangan stroke, segera dilakukan pemeriksaan untuk menentukan apakah penyebabnya bekuan darah atau perdarahan yang tidak bisa diatasi dengan obat penghancur bekuan darah.

Penelitian terakhir menunjukkan bahwa kelumpuhan dan gejala lainnya bisa dicegah atau dipulihkan jika recombinant tissue plasminogen activator (RTPA) atau streptokinase yang berfungsi menghancurkan bekuan darah diberikan dalam waktu 3 jam setelah timbulnya stroke.

Antikoagulan juga biasanya tidak diberikan kepada penderita tekanan darah tinggi dan tidak pernah diberikan kepada penderita dengan perdarahan otak karena akan menambah risiko terjadinya perdarahan ke dalam otak.

Penderita stroke biasanya diberikan oksigen dan dipasang infus untuk memasukkan cairan dan zat makanan. Pada stroke in evolution diberikan antikoagulan (misalnya heparin), tetapi obat ini tidak diberikan jika telah terjadi completed stroke.

Pada completed stroke, beberapa jaringan otak telah mati. Memperbaiki aliran darah ke daerah tersebut tidak akan dapat mengembalikan fungsinya. Karena itu biasanya tidak dilakukan pembedahan.

Pengangkatan sumbatan pembuluh darah yang dilakukan setelah stroke ringan atau transient ischemic attack, ternyata bisa mengurangi risiko terjadinya stroke di masa yang akan datang. Sekitar 24,5% pasien mengalami stroke berulang.

Untuk mengurangi pembengkakan dan tekanan di dalam otak pada penderita stroke akut, biasanya diberikan manitol atau kortikosteroid. Penderita stroke yang sangat berat mungkin memerlukan respirator (alat bantu bernapas) untuk mempertahankan pernafasan yang adekuat. Di samping itu, perlu perhatian khusus kepada fungsi kandung kemih, saluran pencernaan dan kulit (untuk mencegah timbulnya luka di kulit karena penekanan).

Stroke biasanya tidak berdiri sendiri, sehingga bila ada kelainan fisiologis yang menyertai harus diobati misalnya gagal jantung, irama jantung yang tidak teratur, tekanan darah tinggi dan infeksi paru-paru. Setelah serangan stroke, biasanya terjadi perubahan suasana hati (terutama depresi), yang bisa diatasi dengan obat-obatan atau terapi psikis.

http://www.medicastore.com/stroke/Penanganan_Stroke.php

Membaca Gejala Stroke

•Desember 30, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Sebagian besar kasus stroke terjadi secara mendadak, sangat cepat dan menyebabkan kerusakan otak dalam beberapa menit (completed stroke). Kemudian stroke menjadi bertambah buruk dalam beberapa jam sampai 1-2 hari akibat bertambah luasnya jaringan otak yang mati (stroke in evolution).

Perkembangan penyakit biasanya (tetapi tidak selalu) diselingi dengan periode stabil, dimana perluasan jaringan yang mati berhenti sementara atau terjadi beberapa perbaikan. Gejala stroke yang muncul pun tergantung dari bagian otak yang terkena.

Membaca isyarat stroke dapat dilakukan dengan mengamati beberapa gejala stroke berikut:

Kelemahan atau kelumpuhan lengan atau tungkai atau salah satu sisi tubuh.
Hilangnya sebagian penglihatan atau pendengaran.
Penglihatan ganda.
Pusing.
Bicara tidak jelas (rero).
Sulit memikirkan atau mengucapkan kata-kata yang tepat.
Tidak mampu mengenali bagian dari tubuh.
Pergerakan yang tidak biasa.
Hilangnya pengendalian terhadap kandung kemih.
Ketidakseimbangan dan terjatuh.
Pingsan.
Kelainan neurologis yang terjadi akibat serangan stroke bisa lebih berat atau lebih luas, berhubungan dengan koma atau stupor dan sifatnya menetap. Selain itu, stroke bisa menyebabkan depresi atau ketidakmampuan untuk mengendalikan emosi.

Stroke juga bisa menyebabkan edema atau pembengkakan otak. Hal ini berbahaya karena ruang dalam tengkorak sangat terbatas. Tekanan yang timbul bisa lebih jauh merusak jaringan otak dan memperburuk kelainan neurologis, meskipun strokenya sendiri tidak bertambah luas.

Mendiagnosis Stroke

Diagnosis stroke biasanya ditegakkan berdasarkan perjalanan penyakit dan hasil pemeriksaan fisik. Pemeriksaan fisik dapat membantu menentukan lokasi kerusakan pada otak. Ada dua jenis teknik pemeriksaan imaging (pencitraan) untuk mengevaluasi kasus stroke atau penyakit pembuluh darah otak (Cerebrovascular Disease/CVD), yaitu Computed Tomography (CT scan) dan Magnetic Resonance Imaging (MRI).

CT scan diketahui sebagai pendeteksi imaging yang paling mudah, cepat dan relatif murah untuk kasus stroke. Namun dalam beberapa hal, CT scan kurang sensitif dibanding dengan MRI, misalnya pada kasus stroke hiperakut.

Untuk memperkuat diagnosis biasanya dilakukan pemeriksaan CT scan atau MRI. Kedua pemeriksaan tersebut juga bisa membantu menentukan penyebab dari stroke, apakah perdarahan atau tumor otak. Kadang dilakukan angiografi yaitu penentuan susunan pembuluh darah/getah bening melalui kapilaroskopi atau fluoroskopi.
http://www.medicastore.com/stroke/Membaca_Gejala_Stroke.php

Ketahui Faktor Resiko Stroke

•Desember 30, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Penyakit atau keadaan yang menyebabkan atau memperparah stroke disebut dengan Faktor Risiko Stroke. Penyakit tersebut di atas antara lain Hipertensi, Penyakit Jantung, Diabetes Mellitus, Hiperlipidemia (peninggian kadar lipid dalam darah). Keadaan yang dapat menyebabkan stroke adalah usia lanjut, obesitas, merokok, suku bangsa (negro/spanyol), jenis kelamin (pria), kurang olah raga.

Life style, Pencetus Stroke Usia Produktif

Usia merupakan faktor risiko stroke, semakin tua usia maka risiko terkena strokenya pun semakin tinggi. Namun, sekarang kaum usia produktif perlu waspada terhadap ancaman stroke. Pada usia produktif, stroke dapat menyerang terutama pada mereka yang gemar mengkonsumsi makanan berlemak dan narkoba (walau belum memiliki angka yang pasti).

Life style alias gaya hidup selalu menjadi kambing hitam berbagai penyakit yang menyerang usia produktif. Generasi muda sering menerapkan pola makan yang tidak sehat dengan seringnya mengkonsumsi makanan siap saji yang sarat dengan lemak dan kolesterol tapi rendah serat.

Generasi muda yang perjalanan hidupnya masih panjang untuk mampu berkiprah dan bersaing dengan sumber daya manusia lain dari luar negeri. Kecacatan yang mereka sandang akibat serangan stroke, bukan hanya menjadi beban keluarga, tapi juga beban masyarakat secara umum.

Mencegah selalu lebih baik daripada mengobati. Selagi stroke masih bisa dicegah, kenapa tidak mencoba?

Pertama, dengan menjalankan perilaku hidup sehat sejak dini. Kedua, pengendalian faktor-faktor risiko secara optimal harus dijalankan. Ketiga, melakukan medical check up secara rutin dan berkala dan si pasien harus mengenali tanda-tanda dini stroke.

Untuk mencegah “the silent killer” ini maka seseorang dianjurkan untuk mengurangi rokok, melakukan olah raga teratur, membatasi minuman beralkohol, dan menghindari stres berlebihan.

http://www.medicastore.com/stroke/Ketahui_Faktor_Resiko_Stroke.php