Mimisan? Jangan Diabaikan!

Mimisan atau dalam bahasa kedokteran disebut epistaxis, bukanlah sesuatu hal yang baru. Meski begitu fenomena yang ditandai dengan keluarnya darah dari hidung tersebut sebaiknya jangan diabaikan karena bisa jadi itu adalah gejala gangguan kesehatan yang lebih serius.

Di sela-sela menjalani masa karantina persiapan Olimpiade Fisika tingkat Asia dan Internasional tahun 2006, Andy Octavian Latief, pelajar dari SMA Pamekasan, Madura, mengaku sering mengalami mimisan. “Saya sudah biasa mimisan, pernah juga waktu tidur bantal penuh noda darah, ternyata karena mimisan,” ujar pelajar yang akhirnya meraih medali emas di ajang bergengsi tersebut.

Mimisan memang kerap dialami oleh balita atau remaja berusia belia. Mimisan dapat didefinisikan sebagai peristiwa perdarahan akut dari lubang hidung, rongga hidung, atau nasofaring. Kebanyakan kasus mimisan tidak memiliki sebab yang mudah diidentifikasi, namun penyebab terbanyak kasus mimisan pada anak adalah kebiasaan mengorek hidung, adanya benda asing di dalam hidung, sinus, atau terlalu lama menghirup udara kering. Kasus mimisan yang terlalu sering, seperti yang dialami Andy, besar kemungkinan karena terdapat pembuluh darah yang terbuka di hidung.

Selain itu ada pula mimisan yang disebabkan karena trauma pada wajah (akibat benturan), alergi, penyakit TBC atau karena stres. Mimisan yang tidak berkaitan dengan umur adalah mimisan yang berhubungan dengan penyakit kelainan darah, seperti darah sukar membeku (hemofilia), leukimia, serta thalasemia, anemia sel sabit, serta defisiensi vitamin C dan K. Selain itu mimisan juga memiliki kaitan dengan hipertensi dan penyakit hati.

Penanganan
Normalnya mimisan yang bukan karena penyakit lebih mudah dihentikan. Sejak jaman dahulu masyarakat Indonesia telah memiliki “obat” mujarab untuk mengatasi mimisan, yakni dengan menggulung selembar daun sirih (piper betle lynn) dan memasukkannya ke hidung untuk menyumbat mimisan. Dalam sekejap aliran darah dari hidung pun terhenti.

Jika daun sirih tidak ditemukan, maka yang perlu diperhatikan untuk menangani mimisan adalah dengan membaringkan pasien dalam posisi kepala dan bahu sedikit terangkat. Jika tidak dicurigai adanya fraktur pada hidung, pencet lubang hidung pasien agar menutup. Jika hanya satu lubang hidung yang mengeluarkan darah, letakkan ibu jari Anda pada sisi hidung yang mengeluarkan darah dan tekan dengan lembut hingga lubang hidung menutup. Berikan pula kompres dingin pada hidung dan wajah agar pembuluh darah yang terluka mengurangi aliran darahnya.

Orangtua sebaiknya perlu waspada jika anak mengalami mimisan yang pertama kali disertai demam, karena kemungkinan itu adalah gejala penyakit berat, seperti kanker darah. Untuk itu segera bawalah anak ke dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut. Anak yang seringkali mimisan juga perlu diperiksakan ke dokter THT agar masalahnya tuntas.

Menurut dr.Samuel Oetoro, spesialis gizi klinik dari Klinik Semanggi, anak yang sering mengalami mimisan sebaiknya perlu diperhatikan asupan gizinya. “Perbanyak konsumsi makanan yang bisa menguatkan dinding pembuluh darah, misalnya kalsium dan vitamin C,” ujarnya. Selain itu makanan pedas atau tembakau sama sekali tidak disarankan bagi mereka yang baru menderita mimisan.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah untuk sementara membatasi aktivitas fisik yang berlebihan. Para orangtua juga harus mengingatkan anak agar tidak sering-sering mengorek hidungnya.

source: http://www2.kompas.com/ver1/Kesehatan/0708/07/121216.htm

~ oleh oretankoe pada Februari 15, 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: