CERDAS TAPI TERLAMBAT BICARA BAGAIMANA JIKA MASUK SEKOLAH DASAR?

http://www.ditplb. or.id/2009/ app/index. php?option= com_poleksos& task=view\
&id=1782&Itemid= 6&metakeys= artikel

Diterbitkan untuk penyuluhan bagi guru Sekolah Dasar dan orang tua.
Februari 2009

Menilai setiap anak apakah sudah mempunyai kematangan untuk memasuki sekolah terutama sekolah dasar adalah hal yang sangat penting. Hal ini dimaksudkan agar pada saat ia menjalani hari-harinya di sekolah, dan mengerjakan tugas-tugasnya, kegiatan pendidikan mempunyai kesesuaian dengan tahapan dan tingkat perkembangannya. Ia sudah siap menerima pembelajaran, terutama berhitung, membaca, dan menulis. Motorik halus tangannya sudah siap dan kuat untuk belajar menulis. Begitu juga kordinasi mata tangannya. Ia juga sudah bisa berkonsentrasi untuk mendengarkan guru memberikan penjelasan. Ia juga sudah bisa dan memahami perintah dan mengerjakan tugas-tugas. Ia sudah juga bisa menerima pelajaran yang harus menggunakan kemampuan berpikir, baik untuk menghapalkan pelajaran maupun mengerjakan tugas dengan bentuk pelajaran yang membutuhkan kemampuan analisa sederhana seperti pelajaran berhitung.

DR. Julia Maria van Tiel

Anggota Kelompok Kerja CI/BI
Dir. PSLB Mandikdasmen Depdiknas
Jl. RS Fatmawati, Cipete, Jakarta 12410
Alamat korespondensi: j.v.tiel@hetnet. nl

Pendahuluan

Selama ini kita sudah memahami, bahwa setiap anak mempunyai pola tumbuh kembang tersendiri, artinya tumbuh kembang anak-anak adalah unik dan beragam. Sekalipun demikian kita juga mempunyai pegangan tentang pola normal bagaimana seorang anak bertumbuh dan berkembang. Pola ini yang kemudian kita gunakan untuk pegangan kita dalam menilai seorang anak apakah ia sudah siap masuk sekolah dasar atau belum.

Menilai setiap anak apakah sudah mempunyai kematangan untuk memasuki sekolah terutama sekolah dasar adalah hal yang sangat penting. Hal ini dimaksudkan agar pada saat ia menjalani hari-harinya di sekolah, dan mengerjakan tugas-tugasnya, kegiatan pendidikan mempunyai kesesuaian dengan tahapan dan tingkat perkembangannya. Ia sudah siap menerima pembelajaran, terutama berhitung, membaca, dan menulis. Motorik halus tangannya sudah siap dan kuat untuk belajar menulis. Begitu juga kordinasi mata tangannya. Ia juga sudah bisa berkonsentrasi untuk mendengarkan guru memberikan penjelasan. Ia juga sudah bisa dan memahami perintah dan mengerjakan tugas-tugas. Ia sudah juga bisa menerima pelajaran yang harus menggunakan kemampuan berpikir, baik untuk menghapalkan pelajaran maupun mengerjakan tugas dengan bentuk pelajaran yang membutuhkan kemampuan analisa sederhana seperti pelajaran berhitung.

Bukan hanya itu saja, ia juga mempunyai perkembangan bicara dan bahasa yang sesuai untuk seusianya, ia dapat bernyanyi di muka kelas, ia dapat
melakukan tanya jawab dengan guru dan teman-temannya, dan akhirnya ia dapat bergaul dengan sesama teman-temannya.

Untuk berangkat sekolah, menjalankan tugas-tugas sekolah juga dibutuhkan kemandirian seorang anak. Secara mental ia siap berangkat ke sekolah
untuk masuk ke dalam sebuah lingkungan dengan pergaulan yang lebih luas.
Ia mampu secara mandiri menerima pembelajaran dan belajar memperluas apa yang sudah diterima dengan cara mengerjakan tugas-tugas pekerjaan rumah.

Pendek kata, seorang anak agar dapat mengikuti pendidikan dengan baik dibutuhkan kematangan anak dan kesiapan masuk sekolah. Kematangan ini
bukan hanya kematangan fisik, tetapi juga psikologis, sosial, emosional, bicara dan bahasa, inteligensi, serta kemandiriannya. Patokan ini selalu
kita gunakan untuk anak-anak pada umumnya. Namun bagaimana jika kita menghadapi murid baru atau anak kita yang ternyata mengalami keterlambatan bicara? Anak-anak terlambat bicara yang dimaksud disini, yang sebenarnya adalah anak-anak normal, tidak mengalami cacat neurologis, hanya saja ia mengalami perkembangan yang berbeda. Ia juga tidak mengalami gangguan perkembangan inteligensi, bahkan banyak diantaranya yang justru merupakan anak-anak yang cerdas bahkan cerdas istimewa (gifted children). Apabila anak-anak terlambat bicara ini diperlakukan dengan menggunakan tes kematangan untuk anak-anak normal, tentu saja ia akan tidak lulus. Banyak hal, yang ternyata mempunyai prestasi perkembangan berada di bawah patokan rata-rata anak normal, yaitu mengalami keterlambatan perkembangan bicara dan bahasa, mengalami ketertinggalan perkembangan sosial, dan juga mengalami ketertinggalan perkembangan motorik halus. Bahkan kadang ditemui juga anak-anak ini yang tertinggal dalam kemandirian. Sekalipun ia mempunyai perkembangan inteligensi yang lebih maju daripada anak-anak lain, ia juga mempunyai gaya belajar yang berbeda. Apabila anak-anak ini dilakukan tes inteligensi (IQ), profil yang ada masih belum harmonis dan jika dilakukan rata-rata skor IQ seringkali menunjukkan IQ berada di bawah rata-rata normal, hal ini karena ia masih dalam perkembangan dan mempunyai profil IQ yang belum harmonis.

Apa yang harus kita lakukan dalam menghadapi anak-anak ini? Menundanya masuk sekolah dasar, atau tidak?

Dalam mengahadapi anak-anak seperti ini pihak sekolah sering mengalami keraguan, dan tidak jarang menyatakan si anak belum siap untuk masuk
sekolah dasar. Namun dalam kenyataannya ia mempunyai beberapa ketrampilan dan kepandaian yang lebih maju daripada teman sebayanya,
sekalipun IQ rata-ratanya menunjukkan skor berada di bawah rata-rata normal. Banyak diantara anak ini sudah pandai membaca, berhitung, bahkan
menulis saat anak-anak lain belum dapat melakukannya, namun tetap pihak sekolah sering ragu-ragu menerimanya.

Perlu segera masuk SD umum dengan pendekatan khusus

Jawaban yang harus kita pegang adalah bahwa anak-anak terlambat bicara sekalipun ia mengalami prestasi perkembangan bicara dan bahasa yang
belum memuaskan, mengalami ketertinggalan perkembangan sosial dan emosional, serta mengalami ketertinggalan motorik halus, bahkan sulit
menerima pelajaran dengan metoda konvensional, ia tetap perlu masuk ke sekolah dasar umum sebagaimana anak-anak lainnya, serta pada waktunya
(tidak ditunda). Sekalipun berada di sebuah sekolah umum atau reguler, ia juga memerlukan perhatian ekstra karena adanya beberapa kelemahan
yang dipunyainya. Walau ia mempunyai perkembangan inteligensi yang jauh lebih maju daripada teman sebayanya, namun ia juga mengalami
ketertinggalan di beberapa domain tumbuh kembang. Karena itu kepada anak-anak ini memerlukan pendekatan dua arah sekaligus, yaitu faktor
kuatnya sebagai anak yang cerdas bahkan cerdas istimewa, dan juga perhatian kepada beberapa kekurangannya yang dapat menyebabkan potensi
kecerdasannya mengalami hambatan perkembangan. Anak-anak ini mengalami disinkronitas perkembangan, dan baru akan mengalami normalisasi
perkembangan saat ia menjelang pubertas. Di usia dini dan usia sekolah dasar, memerlukan bantuan lebih serius baik dari orang tua, sekolah,
maupun lingkungannya, agar masa-masa sulit dalam tumbuh dan kembangnya, dapat dilaluinya dengan baik, serta potensi kecerdasannya pun
mendapatkan dukungan sehingga dapat lebih berkembang dengan baik.

Alasan bahwa ia perlu masuk sekolah dasar umum dan tidak dilakukan penundaan adalah:

– seorang anak yang mengalami keterlambatan perkembangan bicara dan bahasa sebenarnya anak normal hanya saja ia mengalami perbedaan
perkembangan, dan ia juga tidak mengalami gangguan neurologis;
– seorang anak yang mengalami keterlambatan perkembangan bicara dan bahasa, gangguan perkembangan ini mempunyai prognosa (prakiraan ke
depan) yang baik, dimana di usia menjelang pubertas, dengan pembinaan yang baik umumnya akan mengalami normalisasi perkembangan;
– anak-anak ini tidak mengalami gangguan perkembangan inteligensi, bahkan banyak diantaranya yang mempunyai kecerdasan yang sangat baik.

Bagaimana jika dilakukan penundaan sebagaimana harapan yang seringkali terjadi dengan maksud agar ia matang terlebih dahulu? Tentu saja hal ini
akan “membahayakan” perkembangannya selanjutnya. Karena ia mempunyai dorongan internal (dari diri sendiri) untuk mengembangkan kecerdasannya yang tidak bisa ditunda-tunda. Ia membutuhkan pendidikan segera yang terstruktur dan menantang. Penundaan masuk ke sekolah artinya adalah penghambatan bagi dorongan internalnya, dan penghambatan ini hanya akan memunculkan kebosanan dan kefrustrasian yang dapat menyebabkan masalah-masalah lain seperti masalah perilaku yang memunculkan perilaku agresi, atau sebaliknya penarikan diri dan depresi, serta masalah psikosomatik (gangguan sakit-sakit fisik yang disebabkan karena psikologis). Masalah-masalah seperti ini umumnya sulit rehabilitasinya. Karena itu penting artinya agar kita juga memberikan perhatian bagi perkembangan kecerdasannya secara terstruktur dan menantang bagi dirinya. Agar ia merasa bahagia dan dapat berkembang dengan perasaan aman dan sehat.

Keterlambatan perkembangan bicara dan bahasa

Keterlambatan bicara sebetulnya bukan suatu diagnosa, keterlambatan bicara adalah gejala dari suatu keadaan, seperti gangguan pendengaran,
retardasi mental, autisme, serta gangguan otot-otot mulut dan pernafasan. Atau dapat disebabkan juga karena stimulasi bahasa yang sangat kurang memadai sehingga menyebabkan prestasi bicara dan bahasanya mengalami hambatan perkembangan.

Gangguan perkembangan bicara dan bahasa seperti yang dimaksud dalam artikel ini seringkali disebut juga gangguan bicara dan bahasa ekspresif, karena yang terganggu adalah kemampuan penyampaian bahasa verbalnya (ekspresif), sedang kemampuan penerimaan bahasanya baik (reseptif). Ia juga mempunyai kemampuan bahasa non verbal (bahasa mimik atau bahasa simbolik) yang baik. Para ahli patologi bahasa sering menyebutnya dengan istilah Spesific Language Impairment (SLI) atau gangguan bahasa spesifik. Disebut spesifik adalah karena gangguannya merupakan gangguan yang disebabkan perkembangannya sendiri, bukan karena hal-hal lain. Artinya disini gangguannya merupakan gangguan primer disebabkan karena masalah gangguan perkembangan bicara dan bahasa saja.

Pada penyandang autisme atau mental retardasi, gangguan bicara dan bahasanya merupakan gangguan skunder, karena masalah bicara dan bahasanya disebabkan oleh masalah autismenya atau pada retardasi mental karena masalah gangguan perkembangan inteligensinya.

Para neurolog (dokter ahli syaraf) biasanya menyebut gangguan perkembangan bicara dan bahasa eskpresif dengan istilah Pure Dysphatic
Development (gangguan perkembangan dysphasia murni). Dysphasia artinya adalah gangguan bicara dan bahasa, maka gangguan bicara dan bahasa ini
disebabkan karena memang murni oleh gangguan perkembangannya. Para ahli psikologi yang menspesialisasikan diri pada anak-anak cerdas istimewa
memberi istilah pada anak-anak ini sebagai visual spatial gifted learner. Istilah visual spatial learner diberikan karena anak-anak ini
mempunyai perkembangan gaya belajar yang lebih ke arah gaya belajar visual, serta mempunyai kemampuan dimensi (pandang ruang) yang sangat
baik.

Gejala-gejala yang ditunjukkan oleh anak-anak ini sekalipun mempunyai gejala yang agak-agak berbeda, namun ada patokan yang dapat kita
gunakan.

Dari berbagai literatur, dikatakan bahwa, seorang anak dikatakan mengalami gangguan perkembangan bicara dan bahasa spesifik ini adalah
jika tidak diikuti atau disebabkan karena hal-hal di bawah ini:

– Inteligensi di bawah rata-rata. Bila anak-anak ini diberi tes IQ dengan tes Weschler untuk anak-anak (WISC), maka IQ performansi tidak
boleh di bawah normal (di bawah skor 85).
– Tidak ada gangguan pendengaran, dimana batas ambang pendengaran adalah 25 dBHL. Anak-anak dengan gangguan perkembangan bicara dan bahasa ekspresif ini, ambang dengarnya tidak boleh lebih dari 25 dBHL.
– Bukan akibat dari gangguan pada organ-organ bicara, seperti misalnya gangguan otot-otot mulut, bibir sumbing dan langit-langit sumbing,
gangguan otot-otot pernafasan serta gangguan pita suara.
– Tidak ada gejala parah maupun ringan cacat/gangguan neurologis (sistem syaraf pusat atau otak)
– Tidak ada gangguan kontak sosial seperti halnya autisme
– Tidak terdapat adanya sajian bahasa yang sangat kurang, atau karena menggunakan beberapa bahasa sekaligus (multibahasa) , atau disebabkan
karena sakit sangat lama sehingga tidak dapat mengembangkan kegiatan berbicara dan berbahasa.

Sebelum mengarahkan kepada gejala gangguan perkembangan bicara dan bahasa ekspresif, maka faktor-faktor di atas harus disingkirkan terlebih
dahulu.

Sekalipun anak-anak gangguan perkembangan bicara dan bahasa ekspresif ini telah mendapatkan perawatan medis, mendapatkan terapi wicara, maupun mendapatkan terapi edukasi, namun masalah keteringgalan perkembangan bicara dan bahasanya tetap sebagaimana adanya. Artinya, kita memang harus menunggu kematangan perkembangan neurobiologisnya.

Dengan demikian gejala dari gangguan perkembangan bicara dan bahasa ekspresif adalah:

1. Mempunyai perkembangan bahasa reseptif yang baik atau normal dibanding dengan kemampuan rata-rata anak seusianya (pemahaman bahasa
lebih baik daripada produksi bahasa).

2. Gangguan pada gangguan bahasa ekspresif (produksi bahasa lebih rendah daripada pemahaman bahasa, gangguan kesulitan menyampaikan pikiran dalam bentuk verbal).

3. Komunikasi dialog lebih sulit daripada berbicara spontan, sebab komunikasi dialog berada di bawah situasi komando

4. Terganggunya kelancaran bicara terutama yang menyangkut pencarian daftar kosa kata dalam memori ( finding words), dan kesulitan menyatukan
elemen dalam sebuah cerita.

5. Kesulitan membangun kalimat dan bentuk kata-kata.

6. Menyampaikan sesuatu dengan menunjuk-nunjuk, menarik-narik, atau dengan suara-suara: aah…uuhh…uuhh…uuuuh

Gejala-gejala di atas adalah gejala yang dapat kita lihat secara langsung dalam suatu pengamatan atau observasi.

Dalam pemeriksaan lainnya akan memperlihatkan:

1. Pada pemeriksaan dengan menggunakan tes IQ (WISC) akan menunjukkan inteligensi normal hingga tinggi (tes inteligensi menunjukkan
performansi IQ normal atau lebih tinggi dari rata-rata anak seusianya, walaupun verbal IQ rendah)

2. Pada penelusuran tumbuh kembang bicara dan bahasa, dilaporkan tidak mengalami gangguan pada jadwal perkembangan fase pra-lingual/pra-verbal.
Anak mempunyai periode membentuk bunyi-bunyian tidak begitu banyak, sekalipun dapat dikatakan bahwa ia mempunyai periode babbling. Ia mulai
membentuk bunyian sebagai dasar pembentukan kata-kata (dada mama papa).
Bahkan dilaporkan juga diantaranya ada yang sudah mulai berbicara (periode awal verbal/lingual dini) dengan kemampuan menyebutkan beberapa
kata, namun tidak begitu banyak, perkembangan itu tidak berlanjut berkembang membangun sebuah kalimat.

3. Dalam pemeriksaan otot-otot sekitar mulut, tidak mengalami gangguan motorik otot-otot yang mendukung bicara (dyspraxia). Ia juga bisa
mengucapkan bunyi-bunyian dengan baik.

4. Pada pemeriksaan neurologi, tidak ada tanda-tanda mengalami gangguan neurologis (antara lain keseimbangan motorik kasar baik, mempunyai
refleks yang baik, atau gangguan-gangguan lain yang menunjukkan sebagai gangguan neurologis)

5.Mempunyai perkembangan emosi sosial yang baik sebagai dasar belajar berkomunikasi.

6. Mempunyai kemampuan membaca bahasa isyarat (komunikasi non-verbal)

7. Mempunyai perilaku yang relatif normal.

Perlu dibedakan Sekalipun anak-anak ini mempunyai perkembangan sosial yang terlambat, namun dalam memberikan pendidikan dan pengasuhannya di rumah ia memerlukan metoda pendidikan dan intervensi yang berbeda dengan autisme yang juga mengalami gangguan perkembangan sosial. Pada anak-anak gangguan perkembangan bicara dan bahasa ekspresif ini, ketertinggalan perkembangan sosialnya lebih disebabkan karena perkembangan bicara dan bahasanya. Apabila masalah ketertinggalan perkembangan bicara dan bahasanya dapat dikejar, maka masalah ketertinggalan perkembangan
sosialnya juga dapat dikejarnya.

Dalam memberikan metoda pengajaran, ia juga perlu dibedakan selain dengan anak-anak penyandang autisme, juga dengan anak-anak yang
mengalami gangguan perkembangan inteligensi. Anak-anak gangguan perkembangan bicara dan bahasa ini membutuhkan materi-materi belajar
yang menantang, yang lebih kepada pemecahan masalah, hindari drilling, namun perlu diajarkan strategi belajar tingkat rendah (menghapal).
Anak-anak ini lebih kuat pada logika matematika dan pemecahan masalah daripada pelajaran menghapal. Sedang anak-anak penyandang autisme dan
yang mengalami gangguan perkembangan inteligensi memerlukan bimbingan belajar tahap pertahap secara terstruktur. Anak-anak penyandang autisme
dan gangguan inteligensi mengalami keterbatasan pada kemampuan pemecahan masalah dan logika matematika.

Perkuat kemampuan berbahasa

Salah satu kelemahan yang paling besar dari anak-anak yang mengalami keterlambatan perkembangan bicara dan bahasa ini adalah kesulitan dalam
pelajaran bahasa dan pelajaran yang menggunakan teks. Kelak saat ini masih di sekolah dasar akan mengalami kesulitan berbahasa: membuat
karangan (menyatukan elemen cerita), melakukan tanya jawab, kesulitan gramatika, dan mengalami kesulitan bahasa ekspresif terutama saat sesi
komunikasi karena kesulitan pada finding words (mencari daftar kosa kata dalam memori).

Karena jumlah kosakata pasif maupun aktif yang masih di bawah rata-rata anak seusianya menyebabkan anak-anak ini juga akan mengalami gangguan
pemahaman bacaan. Karena itu kepadanya selalu diupayakan untuk meningkatkan daftar kosa kata, logika bahasa, analogi bahasa, dan gramatika. Akhirnya berlatih membuat karangan dan menjawab pertanyaan secara essay.

Kesulitan pada pemahaman bahasa (ketertinggalan kemampuan semantik) akan juga menyebabkan ia mengalami kesulitan pada soal-soal pilihan berganda.

Kepada anak-anak ini akan lebih bijaksana jika hanya diberikan satu bahasa (tidak bilingual ataupun multilingual) , sebab anak-anak ini mengalami keterlambatan bicara dan tengah belajar mencari salah satu bahasa sebagai bahasa ibu. Kesempatan mengajarkan multibahasa padanya
saat masa krisis berbahasa dapat menyebabkan hilangnya fungsi bahasa ibu yang justru berisi muatan emosi. Hilangnya bahasa ibu yang bermuatan
emosi dapat mempengaruhi ikatan ibu-anak yang penting dalam menunjang tumbuh kembangnya.

Faktor keberbakatan/ berkecerdasan istimewa

Hal yang cukup penting agar kita dapat membedakan bahwa apakah anak kita adalah seorang anak yang mempunyai kecerdasan yang baik, dan tidak
mengalami gangguan perkembangan inteligensi (sekalipun terlambat dalam perkembangan inteligensi verbal), maka beberapa hal perlu kita
perhatikan. Hal-hal di bawah ini dapat digunakan oleh guru dengan bantuan orang tua untuk menelusuri kembali riwaat perkembangan anak-anak
tersebut.

1.Kapasitas intelektual secara umum

Hal ini berkaitan dengan:

– kecepatan dalam penangkapan pengertian;
– kemampuan dan kecepatan mencari solusi problem meski hanya sedikit petunjuk terhadap inti permasalahan;
– selalu ingin segera dan cepat-cepat menyelesaikan problem (tugas sekolah) dengan caranya sendiri dan tidak mengikuti langkah-langkah
aturan yang diberikan guru;
– segera menggunakan informasi terbaru dan segera mengolahnya dengan informasi yang sudah dimilikinya;
– mempunyai kemampuan dengan hukum-hukum (dalil-dalil) yang sudah ada yang membawanya kearah konsekwensi pemikiran yang lebih jauh.

Gelaja bakat intelektualitas kurang lebih dapat digambarkan sebagai berikut:

– rasa ingin tahu yang besar terhadap sesuatu dengan pertanyaan “mengapa” terhadap berbagai fenomena yang dilihatnya;
– selalu ingin cepat-cepat mencari sendiri metoda pemecahan masalah, atau berbagai variasi pemecahan masalah guna reproduksi apa yang sudah
dicapainya;
– kesadaran akan pemanfaatan sebuah metoda pemecahan masalah (terutama dalam situasi darurat) yang dipilihnya dengan dasar pandangannya
terhadap masalah yang tengah dihadapinya, dengan cara melihat kekurangan dan kelebihannya;
– kemampuan memanfaatkan keberbakatannya dalam hal abstraksi yang sangat tinggi.

2.Kreativitas

Tentu saja ada berbagai bidang dari seni yang dapat diartikan sebagai kreatif, misalnya seni ukir, drama, tari, sastra, musik, dan seni
audio-visual. Mampu menberi warna gambar yang rapih, mampu membuat renda dan bisa menyanyi bagus belum tentu secara langsung merupakan sinyal dari kreativitas.

Bila kita berbicara soal kreatif adalah dalam konteks kemampuan yang orisinal, interpretasi yang orisinal, atau solusinya yang orisinal guna
menciptakan sesuatu yang bernuansa seni, maka kreativitas dapat dikatakan sebagai berikut:

– dalam membuat gambar/lukisan di mana anak itu mempunyai cara sendiri dalam menuangkan imajinasinya dalam bentuk yang dapat kita lihat dengan
mata misalnya berupa lukisan/gambar;
– dalam mewujudkan imajinasi bentuk tiga dimensi antara bentuk dan maksud dari model, ia tampilkan dengan caranya sendiri;
– dalam menampilkan nuansa musik, ia melakukan interpretasi sendiri yang kemudian lebih disempurnakan dengan musik yang sudah ada;
– dalam menjalankan peran dalam suatu kegiatan teater, ia mampu menjiwa peran itu sehingga mampu menunjukkan apa yang tengah diperankan itu
menjadi hal yang seolah benar-benar nyata dan hidup;
– dalam penggunaan alat-alat video-visual ia mempunyai kemampuan yang sangat prima dengan caranya yang unik dalam mewujudkan apa yang
dimaksudkan;
– dalam suatu kegiatan seni sastra ia penuh dengan emosi dalam mewujudkan apa yang difikir dan dirasakan itu

Walau begitu, kreativitas berarti tidak hanya berkaitan dengan seni, yang terpenting adalah bagaimana memecahkan suatu problem dengan caranya
sendiri serta mencari tahu sendiri problem apa yang tengah terjadi hingga muncullah suatu kreativitas .

Dalam aspek kreatif ini, fleksibilitas memainkan peranan yang sangat penting, berupa hadirnya situasi baru, misalnya adanya kejutan temuan
baru, atau kejutan kesalahan, pertanyaan-pertanya an yang mengarah pada perkayaan pencarian temuan-temuan baru. Hal di atas justru menantang
mereka untuk terus secara mandiri dan dengan kekuatannya sendiri, mencari kemungkinan- kemungkinan baru, dan ini semua merupakan
tanda-tanda dari suatu kreativitas yang disandang oleh seorang anak cerdas istimewa. Namun dalam mewujudkan kreativitas ini, seorang cerdas
istimewa juga selalu menggunakan intuisinya yang sangat tajam. Dalam kenyataannya bisa saja terjadi sesuatu hal diwujudkannya secara
tiba-tiba (dengan suatu kejutan) berdasarkan intuisi yang berkaitan erat dalam proses kemampuan kreativitas yang dimilikinya.

Pada anak-anak autisme yang juga mengalami keterlambatan bicara, mengalami keterbatasan perkembangan kreativitas ini, ia juga mengalami
keterbatasan perkembangan fantasi dan imajinasinya. Karena itu pada anak-anak autisme akan mengalami keterbatasan bidang minatan. Ia hanya
terikat pada satu bidang minatan yang seringkali juga kurang diwarnai dengan kesan sosial.

3. Kemampuan yang terus menerus dan motivasi yang tinggi.

Aspek ketiga ini adalah bagian dari segitiga Renzulli-Mönks yang merupakan sangat erat berkaitan dengan tujuan yang harus dicapai. Dengan
kata lain bahwa anak itu sendiri yang menetapkan tujuan akhir apa yang akan dicapainya sehingga menanamkan motivasi dan secara emosional
berkaitan dengan apa yang tengah dikerjakan, walaupun sifat ini bukan hanya dimiliki oleh anak cerdas istimewa saja.

Mengenali anak dan balita cerdas istimewa

Gejala anak cerdas istimewa umumnya baru bisa diketahui jika anak tersebut sudah mampu menunjukkan adanya loncatan perkembangan kognitif,
terutama jika ia mampu menunjukkan adanya perkembangan kemampuan pandang ruang yang mendahului teman seangkatannya, sangat detil dan berkembang sangat cepat.

Kita dapat mengamatinya antara lain dengan memperhatikan kegiatan permainan yang dikerjakannya, misalnya saja mengerjakan puzzel yang
sulit, membuat karya gambar yang diciptakannya sendiri secara detil dan tiga dimensi, mampu berfikir tentang analogi, membuat bangunan tiga
dimensi dari alat main. Anak-anak cerdas istimewa adalah anak yang didaktif, ia mampu mengembangkan kemampuan inteligensinya melalui
pemahaman terhadap berbagai kejadian di alam, dengan begitu kemajuan berfikirnya seringkali merupakan hasil dari pengolahan informasi yang
diterimanya.

Alja de Bruin – de Boer (2003) memberikan beberapa patokan untuk kita semua sebagai pegangan untuk melihat gejala-gejala anak-anak usia 4
– 6 tahun yang mengalami loncatan perkembangan, bahwa kita bisa melihat dari hal-hal berikut ini :

Motoriknya berkembang sangat baik : umumnya pada usia yang masih sangat muda anak-anak ini mempunyai perkembangan motorik yang lebih baik dari anak seusianya. Mereka duduk dan berjalan lebih dahulu dari teman sebayanya, dan masih sangat muda sudah dapat bermain dengan material
yang kecil kecil.

Penggunaan bahasa yang sangat baik : sebagian anak cerdas istimewa mempunyai perkembangan bicara dan bahasa yang sangat cepat, tetapi
sebagiannya lagi mengalami keterlambatan bicara namun lambat laun ia akan segera menyusul ketertinggalannya dan segera menggunakan bahasa
yang sulit seperti misalnya `mesin cuci baju `. Mereka memiliki vokabulari yang luas yang hanya sekali saja ditangkapnya dan esoknya
sudah bisa menggunakannya dalam konteks yang benar. Penambahan kata-kata kerja juga baginya akan tidak menjadi masalah.

Sangat mandiri : para orang tua melaporkan bahwa anak-anak ini sejak masih kecil sekali sudah ingin melakukan segala hal sendiri. Makan
sendiri, pakai baju, dan menalikan tali sepatu.

Memiliki enerji yang luar biasa dan sangat banyak gerak : anak-anak ini bagai anak yang tak pernah lelah. Sering mereka sangat sedikit
membutuhkan waktu atau jam tidur, dan selalu ingin melakukan berbagai hal. Sejak kecil sekali ia sudah membenci pengulangan- pengulangan,
karenanya ia seperti tidak mau lagi melihat alat-alat permainannya.
Mereka memiliki begitu banyak interes dan selalu bertanya. Bila ia mendapatkan satu jawaban, segera jawaban itu akan berbuntut dengan
pertanyaan baru. Sebagian dari anak-anak ini tidak mau segera menerima begitu saja pendapat orang lain, misalnya dia tak ingin mendengarkan
jika api itu panas, dan ia ingin mencobanya sendiri benarkah api itu panas. Dia juga ingin sekali tahu bagaimana jika roti diletakkan ke
dalam videorecorder sebagi ganti videocasset.

Dalam berbicara mempunyai perhatian ke masalah spesifik: cerita-cerita para orang tua tentang anaknya di usia 2 – 2,5 tahun yang sangat
sering adalah cerita tentang merek-merek dan tipe mobil. Anak-anak kecil biasanya bertukar bidang perhatiannya dan akan berubah-ubah di beberapa
bulan. Jika ia lebih dewasa bidang perhatiannya akan lebih lama bertahan.

Sangat cepat akan pemahaman dan logika analisis : anak-anak yang mempunyai loncatan perkembangan pada usia yang sangat dini mempunyai
memori yang sangat baik, dan mempunyai kemampuan menghubungkan kejadian satu dengan kejadian lainnya, di mana anak-anak lain masih belum mampu.

Mempunyai kreativitas dalam bermain : anak-anak yang mengalami loncatan perkembangan ini, sejak masih kecil sudah bisa melakukan permainan
fantasi. Jika dibandingkan dengan teman-teman seusianya, ia akan lebih dulu dapat bermain dalam peran yang tetap dan mampu bermain dalam suatu
konflik yang sangat detil. Dia tidak bisa mengerti mengapa teman-teman sebayanya tidak bisa mengambil peranan atau ikut dalam aturan permainan
yang harus dipegangnya.

Lebih cepat belajar membaca dan berhitung : melalui kemampuan pengenalan, melalui banyak pertanyaan yang diajukannya, serta daya ingat
yang sangat baik, anak-anak dengan loncatan perkembangan akan lebih cepat belajar membaca dan berhitung. Dengan begitu ia akan belajar huruf
huruf melalui permainan, misalnya huruf M ada di Mc Donald, Mora, atau Coklat Mars.

Umumnya balita cerdas istimewa baru bisa kita ketahui setidaknya ia sudah menunjukkan adanya loncatan perkembangan kognitif, yaitu di
usianya yang ke tiga, namun beberapa gejala yang mendukung keberbakatan di usia-usia sebelum tiga tahun bisa juga kita amati, yaitu ia mempunyai
refleks yang sangat baik, selalu bergerak, dan sangat `hidup’.
Namun demikian banyak orang tua yang belum bisa menduga bahwa kelak bayinya akan tumbuh sebagai anak cerdas istimewa karena memang belum
menunjukkan adanya loncatan perkembangan kognitif.

Di bawah ini Mooij (1992) tentang gejala anak-anak cerdas istimewa sejak bayi yaitu :

– seringkali lahir sebagai bayi besar dan berat ;
– sering menunjukkan bunyi-bunyian (menangis, membuat bunyi-bunyian) ;
– banyak gerak dan hidup, mempunyai banyak enerji;
– sangat dini sudah menginginkan dan dapat mengangkat kepala;
– menunjukkan perhatian yang besar dan ingin melihat segala sesuatu;
– sangat tidak sabaran dan selalu tegang;
– sangat dini sudah mempunyai kontak mata ;
– menginginkan penerapan segera apa yang diketahuinya, atau sibuk menerapkan ke suatu tujuan, semuanya itu atas kebutuhan dorongan
motivasi internalnya, dan tidak bisa digantikan karena adanya pujian, penghargaan, atau hadiah ;
– sangat kuat dengan keinginan dan kearah perfeksionisme;
– mempunyai daya ingat yang sangat kuat ;
– mempunyai hubungan emosi yang kuat dengan apa yang tengah dikerjakannya, misalnya dalam bidang ilmu-ilmu murni, bahasa, seni,
musik, sosial, bidang psikomotor atau praktis ;
– sangat baik dalam hal : bicara, melakukan abstraksi, generalisasi milai dari hal yang sederhan sampai yang istimewa, pemahaman terhadap
pengertian-pengerti an, dan peletakan hubungan ;
– mempunyai rasa ingin tahu intelektualitas yang besar ;
– mudah menerima pelajaran ;
– mempunyai bidang minatan yang luas ;
– mempunyai perhatian yang besar pada pemecahan masalah dan melakukan realisasi berbagai minatnya ;
– penggunaan bahasa baik secara kualitas maupun kuantitas berada di atas teman sebaya ;
– mandiri dan sangat efektif dalam bekerja;
– dapat membaca di usianya yang masih sangat dini;
– mempunyai kemampuan observasi yang baik;
– menunjukkan inisiatif dan orijinalitas dalam kerja intelektual;
– bereaksi secara alert dan cepat mendapatkan ide-ide baru;
– cepat mengingat sesuatu;
– mempunyai perhatian yang besar dalam hal-hal kemanusian;
– mempunyai imajinasi yang luar biasa;
– mudah mengikuti petunjuk yang kompleks;
– pembaca cepat;
– mempunyai banyak hobby;
– senang membaca berbagai macam hal;
– menggunakan perpustakaan secara efektif;
– sangat pandai dalam matematika/berhitun g, terutama dalam hal pemecahan masalah.

Bagaimana dengan tes IQ ?

Tes IQ untuk anak-anak ini saat akan masuk sekolah dasar, umumnya mempunyai profil yang tidak harmonis. Skala verbal akan menunjukkan skor
yang rendah bahkan di bawah rata-rata, namun skala performansinya menunjukkan skor yang baik, bahkan seringkali jauh di atas rata-rata, terutama untuk subtes yang menekankan pada kemampuan visual dan analisa.
Karena anak-anak ini masih dalam perkembangan, maka kepadanya tidak bisa diberikan skor rata-rata atau total skor. Hal itu akan menyebabkan
kesalahan interpretasi, dimana anak-anak ini akan mendapatkan interpretasi ber IQ rendah dan kesimpulannya lamban belajar. Padahal sesungguhnya ia adalah pembelajar cepat. Untuknya diperlukan seorang tenaga psikolog berpengalaman yang dapat memberikan saran-saran tentang faktor kuat dan lemah dari interpretasi profil tes IQ tersebut.

Penutup

Perlu disimpulkan bahwa kepada anak-anak terlambat bicara namun mempunyai kecerdasan yang baik ini perlu:

1) penempatan sekolah di sekolah-sekolah umum/reguler namun mendapatkan penanganan ekstra;

2) karena ia mempunyai lompatan pada bidang perkembangan inteligensi, namun ketertinggalan kematangan pada bidang perkembangan bicara dan
bahasa, bidang sosial, motorik halus, dan juga kemandirian, maka kepadanya perlu diberikan pendekatan ke dua arah, yaitu ke arah faktor kuat dan faktor lemah yang disandangnya;

3) tidak menarik kesimpulan pada skor rata-rata IQ, namun perlu dilakukan interpretasi yang canggih pada setiap skor yang diperoleh.

Sumber bacaan

Aldenkamp, AP; Renier,WO;
Smit,LME (2004): Neurologische aspecten van ontwikkelingsproble men bij
kinderen, Garant, Antwerpen – Apeldoorn.

Goorhuis, SM & Schaerlaekens, AM
(2008): Handboek taalontwikkelling, taalpathologie en taaltherapie bij
Nederlandsspreekend e kinderen, De Tijdstroom Uitgeverij, Utrecht.

Grauwels, R & de Nooij, G
(2008): Omgaan met dysfatische kind, Garant Uitgevers NV,
Antwerpen-Apeldoorn .

De Bruin-de Boer, A (2002):
Definitie en signalering van hoogbegaafdheid, Proceeding Seminar: Oog
voor Oplossingen, herkenning, erkenning, en acceptatie van hoogbegaafde
kinderen, landelijke vereniging Pharos, De Huisdrukkerij, Ridderkerk.

De Hoop, F & Janson, D J
(1999): Omgaan met (hoog)begaafde kinderen, Uitgevruj Intro, Baarn

Mooij, T (red) (1991):
Onderwijs aan hoogbegaafde Kinderen, Dick Coutinho – Muiderberg.

Mooij, T (1991):
Schoolproblemen van hoogbegaafde kinderen, richtlijnen voor passend
onderwijs, Dick Coutinho – Muiderberg.

Njiokiktjien, C (2005): De
Relatie tussen taalontwikkelings- stoornissen en autisme, Wettenschaplijk
Tijdschrift Autisme, nummer 2, augustus 2005.

Silverman, L.K. (1993):
Counseling the Gifted and Talented, Denver, Lowe.

Silverman, LK (2002):
Upside-Down Brilliance, The Visual –Spatial Learner, DeLeon Pub.,
Denver, Colorado

Reuver, J (2003): de WISC-RN
als presenteerblaadje? Een onderzoek naar het vaststellen van
schoolproblemen bij kinderen op basis van het verschil tussen hun verbal
en performal IQ, Doctoralscriptie opleiding pedagogische wetenschappen
– afstududeerichting orthopedagogiek, Universiteit Leiden.

Reuver, J & Peters,W (2004) :
Verbaal-Performaal Discrepanties en Schoolprobelemen, Talent, Mei –
2004.

Tan, X (2005): Dysfatische
Ontwikkeling, theorie, diagnostiek and behandeling, Suyi Pub, Amsterdam.


[1] Diterbitkan untuk
penyuluhan bagi guru Sekolah Dasar dan orang tua. Februari 2009

[2] CI/BI = Cerdas
Istimewa/Bakat Istimewa

[3] Gejala adanya
cacat/gangguan neurologis pada sistem syaraf pusat di otak dapat dilihat
melalui pemeriksaan fisik seperti sistem refleks dan motorik, maupun
pemeriksaan melalui pencitraan otak.

[4] Dalam komunikasi dialog,
misalnya tanya jawab, maka ia harus menjawab pertanyaan-pertanya an yang
diajukan orang lain. Situasi ini artinya berada di bawah komando orang
lain.

~ oleh oretankoe pada Februari 16, 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: