Antara Cinta, Karir, dan Keluarga, Bisakah Keduanya Diseimbangkan?

Antara Cinta, Karir, dan Keluarga, Bisakah Keduanya Diseimbangkan?

Sulit dipungkiri, keluarga termasuk ukuran kesuksesan bagi masyarakat pada umumnya. Orang yang telah mendulang berbagai kesuksesan karier masih belum dikatakan sempurna kesuksesannya apabila tidak dibarengi kesuksesan dalam membangun keluarga. Kira-kira begitulah pandangan sebagian besar kita.
Tapi, seiring dengan meningkatnya kebutuhan ekonomi, aktualisasi-diri, dan lain-lain, ternyata semakin banyak dari kita yang menjalankan keputusan berkarier di luar rumah untuk menunjang kesuksesan keluarga. Pertanyaannya, apa bisa kita hadir secara seimbang di kedua wilayah yang penting itu sehingga saling mendukung?

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, yang perlu kita lihat lebih dulu adalah pemahaman kita tentang keseimbangan itu. Ada orang memahami keseimbangan secara teknik. Misalnya, Anda membikin jadwal kegiatan jam perjam dalam agenda pribadi untuk mengetahui kapan menelpon anak, dan pasangan atau mengurusi kesibukan kantor.

Ada juga yang memahami secara kehadiran fisik. Bila seperti ini, berkarier dan berkeluarga tidak bisa diseimbangkan secara proporsional. Ini karena manusia itu memiliki keterbatasan ruang dan waktu. Tak mungkin kita hadir secara bersamaan dalam satu waktu di kedua bidang. Pasti ada yang jadi korban.

Ada lagi yang tidak memiliki pemahaman seperti itu. Keseimbangan itu bukan soal teknik karena hidup ini seringkali tak bisa diteknikkan seperti matematika. Juga, bukan pula soal kehadiran fisik. Banyak ibu yang sehari-harinya di rumah, namun tidak optimal memberikan perhatian dan peduli. Keseimbangan adalah soal manajemen pikiran, perasaan, hati dan tindakan.

Tujuan Harus Tercapai
Menurut hukum alamnya, keseimbangan itu bukan tujuan, melainkan cara untuk mencapai tujuan. Tujuannya adalah keharmonisan dari apa yang ingin dicapai.

Alam mengajarkan untuk kita menghindari hal-hal yang ”terlalu” (ekstrim) agar seimbang. Terlalu memikirkan karier, seperti workaholic. Sebaliknya juga kalau kita terlalu memikirkan keluarga berakibat ketidak seimbangan kepada keluarga. Ini bisa membuat kita berpikir laksana pemilik mutlak atas anak dan pasangan. Padahal, kita hanya diberi tugas menjaga dan membesarkan.

Intinya, antara cinta karier dan keluarga bisa diseimbangkan asalkan bisa mengontrol diri dan berpikir sinergis, menjadikan dua hal yang berbeda untuk bisa saling menunjang keberhasilan dan kebahagian, bukan mengkonfrontasikannya.

http://www.sahabatnestle.co.id/ibubekerja_detail.aspx?id=1929

~ oleh oretankoe pada Februari 19, 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: