Butir Padi Pertanda Kasih

Dua bersaudara bekerja bersama-sama di ladang milik keluarga mereka.
Yang seorang telah menikah dan memiliki sebuah keluarga besar. Yang
lainnya masih lajang. Ketika hari mulai senja, kedua bersaudara itu
membagi sama rata hasil yang mereka peroleh.

Pada suatu hari, saudara yang masih lajang itu berpikir, “Tidak adil
jika kami membagi rata semua hasil yang kami peroleh. Aku masih
lajang dan kebutuhanku hanya sedikit.” Karena itu, setiap malam ia
mengambil sekarung padi dari lumbung miliknya dan menaruhnya di
lumbung milik saudaranya.

Sementara itu, saudara yang telah menikah itu berpikir dalam hatinya,
“Tidak adil jika kami membagi rata semua hasil yang kami peroleh. Aku
punya istri dan anak-anak yang akan merawatku di masa tua nanti,
sedangkan saudaraku tidak memiliki siapa pun dan tidak seorang pun
akan peduli padanya pada masa tuanya.” Karena itu, setiap malam ia
pun mengambil sekarung padi dari lumbung miliknya dan menaruhnya di
lumbung milik saudara satu-satunya itu.

Selama bertahun-tahun kedua bersaudara itu menyimpan rahasia itu
masing-masing, sementara padi mereka sesungguhnya tidak pernah
berkurang, hingga suatu malam keduanya bertemu, dan barulah saat itu
mereka tahu apa yang telah terjadi. Mereka pun berpelukan.

Jangan biarkan persaudaraan rusak karena harta, justru pereratlah
persaudaraan tanpa memusingkan harta.

Bagaimanakah kita mampu membangun persaudaraan yang diwarnai kasih
seperti kisah di atas tadi? Kedua orang saudara tadi belajar memahami
kebutuhan satu sama lain. Yang masih lajang dapat melihat tentulah
lebih banyak kebutuhan saudaranya yang sudah berkeluarga daripada
kebutuhannya sendiri. Sementara yang sudah berkeluarga mampu memahami
saudaranya yang masih lajang itu tidak memiliki siapa-siapa, dia lebih
membutuhkan kekayaan daripada dirinya.

Kemampuan untuk memahami itu bisa menjadi kenyataan dalam perbuatan
kalau mereka tidak lagi menjadikan kekayaan sebagai satu-satunya
sumber kehidupan. Mereka lebih menomorsatukan bagaimana orang lain
bisa hidup layak di dunia ini, dengan konsekuensi diri mereka pun lalu
dinomorduakan.

~ oleh oretankoe pada Maret 5, 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: