Alergi Tak Bisa Sembuh Sendiri

sumber: http://www.korantem po.com/korantemp o/koran/2008/ 10/27/Gaya_ Hidup/krn. 20081027. 146048.id. html
Alergi Tak Bisa Sembuh Sendiri
Risiko terkena alergi lebih tinggi hingga 50 persen bila kedua orang tua mengidap alergi.
Alergi, siapa yang tak mengenal kata itu. Kata ini boleh dibilang akrab dalam kehidupan sehari-hari. Terlebih bagi Kristin, ibu tiga anak yang bekerja di sebuah instansi pemerintahan di Jakarta Pusat. Saat pagi datang, bersin pun menghampirinya. Belum jika pembantu menyapu di sekitarnya. Mendadak sontak ia pun berbangkis tak henti-henti. “Meler sih nggak, ya, cuma bersin-bersin aja. Ribet kalau lagi gendong si kecil, “keluhnya.

Hal yang sama dialami oleh Lina, 26 tahun, karyawati di perusahaan media di Jakarta. “Gue alergi debu dan juga punya asma. Makanya setiap minggu seprai kudu diganti. Kalau nggak, bisa bengek gue,” ucapnya. Bagi Kristin dan Lina, alergi yang dialami mereka sejak usia belia bukanlah hal yang serius dan mengkhawatirkan. “Ngapain juga ke dokter? Paling obatnya itu-itu aja. Didiemin aja juga entar hilang,” begitu pengakuan keduanya.

Kesadaran masyarakat Indonesia terhadap alergi memang masih rendah. Tak jarang mereka menganggap alergi merupakan penyakit biasa yang bisa sembuh sendiri tanpa diobati. Padahal, jika tidak diobati secara intensif dan tepat, alergi dapat menjadi ancaman bagi kehidupan seseorang. Mengingat orang yang menderita alergi lebih sensitif dan emosi mudah terpengaruh.

Hal itu diungkapkan oleh Dr Iris Rengganis, SpPD, KAI, dalam perbincangan yang bertema “Jangan Abaikan Alergi” di Hotel Le Meridien, Jakarta, Selasa lalu. Ahli dari divisi alergi dan imunologi klinik Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, ini mengungkapkan penanganan yang tidak tepat pada alergi dapat menyebabkan timbulnya penyakit lain yang lebih berbahaya.

Alergi merupakan reaksi menyimpang dari tubuh yang berkaitan dengan peningkatan kadar imunoglobulin E, yang merupakan suatu mekanisme sistem imun. Zat yang menimbulkan reaksi alergi dinamakan alergen. Alergen, menurut dokter teladan Jakarta Selatan 1988 ini, masuk ke tubuh melalui berbagai saluran yang ada dalam tubuh. Misalnya saluran napas (inhalan), saluran cerna (ingestan), suntikan (injektan), atau menempel pada kulit (kontaktan).

“Alergi muncul dipengaruhi oleh dua faktor, yakni genetik dan lingkungan sebagai faktor eksternal tubuh,” katanya. Gejala alergi yang kerap kita jumpai, yakni bersin di pagi hari, yang sering disebut rinitis; gatal-gatal di kulit (urtikaria); asma; mata bengkak dan berair; serta gatal-gatal telinga bagian dalam.

Iris menyatakan alergi bukanlah penyakit menular, melainkan penyakit turunan. Dari data yang ada menyebutkan persentase seseorang terkena alergi lebih tinggi hingga 50 persen bila kedua orang tuanya mengidap alergi. Sementara itu, bagi pasien yang salah satu orang tuanya mengidap alergi, peluangnya sekitar 30 persen. “Sementara yang bukan karena genetik mencapai 10-15 persen,” ia menambahkan.

Menderita akibat alergi juga dialami oleh model dan presenter cantik Arzeti Bilbina Setyawan. Ibu tiga anak ini mengaku alergi terhadap makanan laut dan minuman beralkohol. Dalam sebuah perjalanan untuk peragaan busana ke Eropa, ia sempat dibikin repot oleh alergi yang dideritanya. “Waktu di pesawat aku ditawarin wine. Dengan cuek aku minum aja, eh bangun-bangun badan bengkak-bengkak, ” tutur perempuan yang biasa disapa Zeti ini.

Namun, pengalaman yang sangat menyedihkan buat Zeti ketika ia harus menelan air liur karena alergi terhadap makanan laut. Beruntung ia memiliki jurus jitu sehingga masih bisa mencicipi kelezatan udang dan kepiting. “Aku selalu minum incidal sebelum makan seafood. Dan ternyata badanku baik-baik saja, ” ujarnya.

Dalam pengobatan untuk alergi, Iris menyebutkan perlu penanganan yang tepat. Yang paling mudah dengan antishistamin, yang merupakan pengobatan farmakoterapi. Jika tidak kunjung sembuh, pengobatan yang lebih intensif sebaiknya dilakukan pasien dengan petunjuk dokter. “Ada dua tes untuk melihat alergi: tes tusuk kulit dengan 24 tusukan atau dengan tes darah yang bertujuan untuk melihat imunoglobulin E-nya,” ucapnya.

Namun, ia menambahkan, untuk tes tusuk kulit tidak dapat dilakukan oleh pasien yang memiliki alergi tekanan. Maka tes dengan darah sangat dianjurkan. “Memang lebih mahal, tapi itu yang paling aman,” ujar Iris. Untuk pengobatan farmakologi, ia menganjurkan agar pasien tidak mengkonsumsi obat steroid. Sebab, obat yang mengandung steroid atau yang mengandung hormon memiliki efek samping yang cukup berbahaya.

Staf pengajar di FKUI ini menganjurkan salah satu cara ampuh agar anak-anak bisa terhindar dari alergi, yakni dengan membiasakan anak-anak untuk hidup di lingkungan yang tidak terlalu steril. Sehingga daya tahan tubuh anak akan lebih kebal karena imun sudah terbentuk lebih bagus. “Jadi jangan biarkan lingkungan menjadi lingkungan alergi sejak kecil,” ia menegaskan. s ika sari

Penyebab Alergi

Alergen inhalan (saluran napas): tungau debu rumah, serpihan kulit kucing, kecoa, spora.

Alergen ingestan (ingestan): susu, telur, kacang, ikan laut, obat oral.
Alergen injektan (suntikan): analgesik dan penisilin.
Alergen kontaktan: kosmetik dan logam (perhiasan, jam tangan).
Pencegahan

Pencegahan terhadap lingkungan alergi.
Minum obat antihistamin.
Hindari stres.

~ oleh oretankoe pada Maret 6, 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: