anak tidak mau mandi – article memahami anak yg mulai suka menentang

Memahami Anak yang Mulai Suka Menentang
Bisa Jadi Awal dari Tumbuhnya Kemandirian

source from: http://www.tabloidnova.com/bonus.asp?nomor=692&tahun_terbit=XIV&sc=bonus&artikel=1&page=2

Orang tua sebaiknya tak usah terburu-buru dan panik menghadapi anak yang suka menentang. Pasalnya, ini merupakan gejala yang wajar terjadi pada hampir semua anak.

“Enggak mau, pokoknya enggak mau!” begitu teriak Doni (4), saat diminta sang Mama untuk segera mandi. Anda pun tentu kerap mengalami kejadian serupa. Sikap seperti yang dilakukan Doni merupakan hal jamak yang dilakukan anak, bahkan sampai usia menjelang remaja. Tak urung, banyak orang tua yang mengeluh tidak dapat mengendalikan atau mendidik anaknya, karena perilaku menentang yang ditunjukkan anak.

Masa perkembangan yang diwarnai dengan perilaku menjengkelkan, membuat naik pitam atau frustrasi ini sering dikenal dengan nama masa egativistik. “Kalau seseorang menyarankan ‘ya’, anak akan mengatakan ‘tidak’. Kalau kita berpendapat ‘hitam’, ia bersikeras ‘putih’. Jika kita larang, ia malah melakukannya,” ujar Dra. Shinto Adelaar, M.Sc. saat tampil sebagai pembicara dalam seminar tentang Your Defiant Child (Anak Suka Menentang) yang diselenggarakan Janssen Pharmaceutica bekerjasama dengan BP Pendidikan Yayasan Patmos beberapa waktu lalu di Jakarta.

Menurut psikiater anak Dr. Dwidjo Saputro, Sp.KJ, ciri-ciri anak menentang antara lain emosi yang mudah meledak, sikapnya selalu menjengkelkan orang lain, senang berdebat atau beradu pendapat dengan orang dewasa, selalu menentang atau membangkang, tidak patuh pada peraturan atau tuntutan orang dewasa, selalu menyalahkan orang lain atas kesalahannya sendiri, mudah tersinggung atau merasa diganggu oleh orang lain, selalu marah-marah, dan selalu ingin balas dendam. “Ciri-ciri perilaku ini mengakibatkan anak tidak dapat diterima oleh lingkungannya, bahkan menimbulkan masalah dalam belajar maupun fungsi kehidupan lainnya,” lanjut Dwidjo pada kesempatan yang sama.

Sikap anak seperti ini memang menjengkelkan. Hanya saja, “Sikap ini sebenarnya bisa merupakan bagian dari mulai tumbuhnya kemandirian dan kemampuan untuk mengemukakan diri. Di usia ini, kebanyakan anak mulai menguji otonominya dan mencoba melakukan berbagai hal atas inisiatifnya sendiri,” ujar. Shinto. Tindakan atau inisiatif tersebut, lanjut Shinto, adakalanya tidak sesuai atau mengkhawatirkan orang tua, sehingga orang tua melarangnya dan anak merasa terhambat otonomi atau inisiatifnya.

Akibatnya, anak dapat bereaksi positif, yaitu patuh, atau sebaliknya, bersikap negatif dengan menolak untuk patuh atau bersikeras melakukan hal yang dilarang. Di usia praremaja, sekitar sepuluh tahun, dan di masa remaja, sikap atau perilaku itu akan muncul kembali, meski dalam bentuk tingkah laku yang mungkin berbeda. “Pada remaja, sikap menentang berkaitan dengan perkembangan identitas dan pemantapan peran untuk memasuki kedewasaan,” tambah Shinto.

BUKAN PERILAKU ANTISOSIAL

Sementara menurut Dr. Jimmy Passat, Sp.A(K) dari Subbagian Saraf Anak bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSCM, perilaku disruptive atau merusak ada dua. Yakni Oppositional Defiant Disorder (ODD) dan Conduct Disorder (CD). Kedua hal ini harus dibedakan dari perilaku antisosial. “Pada perilaku antisosial, tidak terlihat keseragaman gejala secara kuantitas maupun kualitas, serta tidak terlihat pola munculnya gejala berdasar umur tertentu,” lanjut Jimmy.

ODD merupakan perilaku negativistik, defiant (menentang), cenderung menyerang yang sedemikian beratnya, sehingga mengganggu fungsi akademik, pekerjaan, atau sosial, yang berlangsung lebih dari enam bulan. “Perilaku buruk tersebut ditujukan kepada seseorang yang biasanya merupakan figur otoritas, misalnya orang tua atau guru,” ujar Jimmy.

Namun anak-anak ini tidak menunjukkan perilaku antisosial lainnya. ODD juga bukan merupakan bagian dari perkembangan anak “nakal” yang normal, yaitu sekitar umur 2 – 3 tahun dan masa remaja awal. Dibandingkan CD, keadaan ini lebih ringan dan muncul 2 – 3 tahun lebih dini.

Sementara CD adalah berbagai perilaku antisosial yang menetap pada anak dan remaja, yang gejalanya antara lain adalah agresif dan jahat pada orang lain dan binatang, suka merusak benda-benda orang lain, mencuri dan tidak jujur, serta melakukan pelanggaran serius terhadap aturan atau norma.

Menurut penelitian di AS, lima sampai delapan persen anak memiliki masalah dalam perilaku mereka, yakni suka menentang dan tidak patuh. “Yang harus diperhatikan orang tua, 40 sampai 60 persen anak yang menderita gangguan hiperkinetik atau gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (GPPH) juga ditemukan ciri-ciri sikap menentang dan tidak patuh tersebut,” ujar Dwidjo seraya melanjutkan, ada tiga kriteria yang bisa dipakai untuk menetapkan derajat perilaku anak tersebut, yaitu keajekan (constancy), frekuensi, dan derajat keparahan perilaku tersebut.

KOMBINASI PENYEBAB

Penyebab kenapa anak bersikap menentang bisa bermacam-macam. “Ada kombinasi antara faktor genetik/biologis, psikologis, dan sosial,” ujar Jimmy. “Pada anak usia dini, sikap ini lebih banyak karena prinsip kesenangan. Ia ingin segera terpenuhi keinginannya,” timpal Shinto. Sikap ini bisa juga merupakan hasil belajar dari lingkungannya. “Sehari-hari, ia melihat orang-orang di sekelilingnya menyatakan tidak dan ternyata hal itu membuat orang lain bereaksi sesuai dengan yang dikehendaki. Nah, anak mencoba menirunya,” lanjut Shinto.

Perilaku ini juga bisa karena pola asuh yang otoriter. “Orang tua terlalu menuntut anak untuk patuh, namun tidak memberi sedikit pun peluang bagi anak untuk mengekspresikan diri,” ujar Shinto. Tanggapan atau reaksi yang tidak tepat terhadap tingkah laku anak juga cenderung memperkuat sikap perlawanan anak. “Reaksi tidak tepat ini bisa berupa hukuman yang terlalu keras, teknik pendisiplinan yang tidak konsisten, maupun pelaksanaan aturan yang tidak konsisten. Kondisi ini mempersulit proses belajar anak dalam usaha memahami aturan, maupun cara berinteraksi dengan lingkungan sosialnya,” lanjutnya.

Selain itu, masalah emosional juga dapat menjadi sumber sikap menentang. Anak yang merasa kurang terpenuhi kebutuhannya, kurang bahagia, mengalami banyak frustrasi atau merasa tidak diperhatikan atau diterima lingkungannya juga dapat menunjukkan reaksi menentang. “Buat apa mengikuti tuntutan lingkungan. Toh lingkungan pun selama ini tidak pernah memperhatikan kebutuhanku,” begitu pikir mereka.

Ditambahkan Shinto, “Sikap menentang dalam bentuk suka mendebat, mempertanyakan atau berargumen mengenai berbagai hal, termasuk larangan, sebetulnya bisa juga merupakan indikasi dari mulai tumbuhnya daya nalar atau pun kemampuan berpikir kritis. Jadi, sikap ini amat diperlukan sebagai latihan agar kemampuan berpikir seseorang dapat berkembang ke tingkat yang lebih canggih.”

PERLUNYA SIKAP KRITIS

Lantas, apa yang harus dilakukan orang tua? Shinto menganjurkan agar orang tua tidak terburu-buru memaki atau menghukum anak. “Perhatikan dulu kondisi anak, kejadian apa yang mendahului tindakan atau sikap menentang yang ditunjukkan anak, apakah reaksi tersebut dapat dipahami secara rasional, atau apakah sikap menentang tersebut hanya sekadar reaksi terhadap sikap atau tindakan kita yang kurang tepat.”

Untuk itu, orang tua juga mesti mengenali dulu teknik penerapan disiplin yang digunakan sehari-hari. “Perhatikan juga tahap perkembangan anak dan kebutuhannya pada suatu masa. Perhatikan juga apakah memang benar anak sering menentang, ataukah kita yang terlalu menuntut anak agar selalu patuh. Apakah sikap menentangnya jauh lebih parah ketimbang anak lain seusianya?”

Prinsip-prinsip dasar yang harus dilakukan orang tua dalam usaha mengatasi atau meminimalkan sikap menentang anak, antara lain adalah melatih diri untuk mampu menerapkan sikap baku dalam mengasuh anak, yaitu mementingkan perkembangan anak. “Berusahalah memahami perilaku anak, meski bukan lantas berarti selalu menyetujui atau mendukung. Selain itu, cobalah identifikasi tindakan anak yang positif maupun yang negatif,” ujar Shinto.

Orang tua juga harus berlatih untuk berempati, yaitu melihat persoalan dari sudut pandang anak, menerima kenyataan bahwa anak adalah individu yang otonom dengan pikiran dan perasaan sendiri. Yang juga harus diperhatikan adalah melatih diri untuk bersikap otoritatif dalam menerapkan disiplin pada anak. “Terutama pada remaja, kita perlu memberi peluang untuk berdiskusi mengenai berbagai aturan, tingkah laku, dan konsekuensi sosial maupun hukum yang mungkin dihadapi,” ujar Shinto.

Tak kalah penting pula, “Orang tua harus mengingat bahwa sikap kritis diperlukan agar anak dapat mencapai tingkat kemampuan berpikir yang matang. Jadi, hargai dan terimalah anak dengan perasaan, pikiran, harapan, atau kebutuhannya. Hindari pula pendapat bahwa orang tua harus selalu menang,” tandas Shinto.

Hasto Prianggoro

~ oleh oretankoe pada Maret 6, 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: