Menyontek Adalah Wujud Ketidakadilan!

Hidup ini adalah sebuah perjalanan yang penuh dengan bahan pembelajaran dan harus kita selalu renungkan. Ada rangkaian langkah kehidupan yang kalau direnungkan baik secara parsial maupun integral akan memberikan makna lebih dibandingkan dengan perjalanan hidup sebelumnya.

Di awal Februari ini banyak moment yang memperlihatkan saya kepada fakta ‘ketidakadilan’ . Diantaranya ada cerita seorang adik yang bersaing suatu kesempatan dan kesempatan itu jatuh kepada orang lain yang memiliki kualifikasi yang tidak lebih baik dari padanya. Ada pula cerita seorang teman kuliah tidak memperoleh buku acuan kuliah karena diambil oleh teman lain yang namanya belum tercantum dalam daftar pemohon.

Ketidakadilan! Paling tidak itu yang muncul menurut kata hati. Sederhananya ketidakadilan itu terjadi ketika kita tidak memperlakukan seseorang atau sesuatu sebagaimana mestinya. Yang sudah pasti kalau bicara hal ini, tidak ada seorang pun yang ingin menjadi korban ketidakadilan. Berpikir pun mungkin tidak.

Namun pernahkah kita berbuat tidak adil?

Ada ketidakadilan yang biasa dilakukan secara terstruktur dan terencana dengan baik yaitu menyontek atau bekerja sama selama ujian walaupun sudah dilarang. Banyak akibat negatif yang ditimbulkan sehingga harus dihilangkan. Usaha Universitas Bina Nusantara yang memampang besar-besar nama mahasiswa yang tidak lulus ujian karena menyontek adalah suatu hal positif yang patut ditiru.

Yang sangat jelas yang menyontek akan berbuat tidak adil kepada temannya yang sudah belajar keras dan mengikuti norma ujian sebagaimana mestinya. Jangankan mendapat nilai akhir yang sama, mendapat nilai lebih jelek pun yang menyontek tetap dzalim. Kecurangan yang dilakukan akan terakumulasi dalam IPK yang dicapai. Saya tidak akan menyebut itu IPK haram namun adalah alasan logis dan kuat kalau IPK yang dikumpulkan dengan cara menyontek itu IPK yang hakiki atau sebuah Kumulatif sebuah penipuan? Lebih jauh lagi, IPK tersebut dipakai untuk melamar sebuah pekerjaan dan kita sukses di pekerjaan tersebut kemudian membawa uang kompensasi ke rumah untuk menghidupi keluarga kita di rumah, bagaimana kadar kehakikian itu semua?

Mungkin terlalu jauh, hanya yang jelas kebiasaan menyontek akan membentuk sikap diri yang penuh ketergantungan dan ketidakdewasaan. Tidak percaya? Hasil tes psikologis untuk akan lebih akurat dan dipercaya dalam hal ini. Kalaupun dalam penampilan sehari-hari bias berekspresi dengan penuh percaya diri dan meyakinkan, itu hanya sesuatu yang sifatnya temporer.

Renungan ini adalah sebuah ajakan perenungan diri barangkali dahulu (atapun sekarang) kita menjadi mendukung ketidakadilan tersebut. Hakikatnya belajar di bangku kuliah tidak hanya memahami suatu rumus namun jauh lebih penting untuk mendidik dan membentuk moral positif. Bagaimana mau menenggakan nilai dan norma hidup positif kalau dimulai dari tabiat ketidakadilan seperti itu?

Mari kita cegah ketidakadilan!

http://nasuta. blogs.friendster .com/nasutablog/

~ oleh oretankoe pada Maret 6, 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: