saya menemukan hati saya kembali

Kepada saya pernah dinasihatkan; jangan sampai kamu membiarkan hatimu menjadi buta, tuli, dan bisu. Mungkin nasihat itu terasa seperti sekedar basa-basi. Tetapi jika kita coba cermati, ternyata memang; hati manusia itu menentukan segala tindakan dan perbuatannya. Baik kepada diri sendiri, maupun orang lain. Orang-orang yang hatinya buta, tidak dapat melihat dampak merugikan yang ditimbulkan dari perilakunya yang buruk. Orang-orang yang hatinya tuli, tidak bisa mendengar jerit tangis orang lain. Dan orang-orang yang hatinya bisu, tidak mampu mengatakan bisik kebajikan bahkan
sekedar kepada dirinya sendiri. Jadi, sungguh berbahaya jika manusia sampai membiarkan hatinya menjadi buta, tuli, dan bisu. Sebab jika sudah demikian, kita yang menganggap diri sebagai mahluk mulia ini tidak akan malu lagi untuk melakukan apa saja. Seburuk apapun itu.
Karena kita pada dasarnya; tidak lagi memiliki hati nurani.

Saya ada sesi presentasi CRM dihadapan sekitar 50 orang sales force hari Jum’at kemarin. Dalam perjalanan menuju lokasi presentasi, radio mobil saya tuned in di sebuah stasiun. Setelah memutarkan beberapa lagu, penyiar bercerita tentang proses penggusuran sebuah pasar bunga yang sudah sejak jaman dahulu hadir disalah satu sudut kota Jakarta. Kemudian dia mengatakan bahwa diseberang telepon sudah tersambung seorang pedagang bunga sekaligus pemilik satu dari 108 buah kios yang dirobohkan budozer aparat pemerintah.

Ketika mendengar hal itu, hati saya biasa-biasa saja. Mungkin karena sudah terlampau sering saya mendengar kabar, membaca dikoran, atau menyaksikan lewat pesawat televisi; peristiwa-peristiwa penggusuran semacam itu. Isak tangis ibu-ibu pemilik gubuk atau kios. Kemarahan para lelaki yang tertindas. Semuanya sudah menjadi biasa. Jadi, saya tidak lagi merasakan itu sebagai sesuatu yang perlu dipedulikan.
Semuanya, biasa-biasa saja.

Pagi itu, tangan saya terasa enggan untuk sekedar memencet remote control agar berita tak bernilai itu tidak lagi terdengar ditelinga saya. Bosan rasanya. Tapi, mengapa tangan ini sama sekali tidak kuasa untuk meraih remore control itu? Seolah memaksa diri saya untuk mendengar percakapan radio itu. Baiklah, saya dengarkan saja.

“Pak Cahya,” demikian sang penyiar radio menyebut lelaki diseberang telepon. “Apa yang saat ini sedang terjadi disana?”
“Ya, disini aparat pemerintah sedang membumihanguskan kios-kios kami,” dia bercerita.
“Lalu apa yang anda dan rekan-rekan lakukan?” lanjutnya.
“Kami berbaris saja didepan pasar dengan damai sambil menyaksikan para petugas yang digaji dari retribusi yang kami bayar setiap hari itu merusak semua milik kami.” katanya. Telinga saya mulai terkesiap. Seperti telinga seekor anjing yang mendengar suara gemerisik ditengah kesunyian malam. “Sementara kami tidak kuasa menyaksikan mereka menginjak-injak kaum perempuan dan ibu-ibu.”
“A-apa yang Bapak maksudkan menginjak-injak kaum perempuan?”
“Dibarisan paling depan ada ibu-ibu yang duduk dengan damai sambil memegang bunga, lalu para petugas ….”

Saya tidak lagi dapat mendengar dengan jelas apa yang dikatakan pemilik kios bunga itu. Sebab, tiba-tiba saja saya merasakan mata ini berkaca-kaca. Ah, mengapa harus cengeng! Begitu hati saya memberontak. Tetapi, semakin dia melawan, semakin terang-terggambar dalam imajinasi saya suasana yang tengah terjadi dipasar bunga yang terusir itu. Saya memang beberapa kali menyaksikan proses penggusuran pasar dan rumah warga di berita-berita televisi. Dan, saat ini; tayangan demi tayangan itu berputar-putar diotak saya. Dan semakin kuat hati saya memberontak, semakin samar pandangan saya oleh air mata yang kini sudah meleleh dipipi kiri dan kanan.

Hey! Sudah sangat lama saya tidak menitikkan air mata. Mengapa hari ini saya melakukannya? Masihkah kamu seorang lelaki bersuara lantang itu? Kemana gerangan ketegaran dirimu pergi? Saya tidak tahu. Saya.
Tidak. Tahu. Yang saya tahu, dada saya tidak kuasa lagi menahan gejolak. Aneh, telinga saya mendengar suara seseorang yang tengah terisak. Padahal, didalam mobil itu hanya ada saya sendirian. Jadi, suara siapakah gerangan itu?

Sekitar jam delapan kurang lima belas menit, mobil yang saya kendarai melintasi pasar Jatinegara menuju ke arah Matraman. Ketika saya berhenti diperempatan yang tertahan oleh lampu merah, saya mendapati diri saya sudah menangis seperti seorang pencinta yang ditinggal pergi kekasih hatinya. Orang-orang yang menyeberang melintasi mobil mungkin mengira saya memang tengah patah hati. Para pengendara motor yang berjejer dikanan dan kiri menanti lampu hijau terheran-heran; mengapa ada lelaki berdasi yang tengah mengendari mobil sambil menangis? Tapi, ah. Biarkan saja. Mereka tidak mengerti apa yang saat ini tengah saya rasakan dalam hati ini. Saya biarkan saja hujan setempat itu terus mengguyur. Toh ada kertas tissue yang bisa digunakan untuk menyekanya kemudian.

Gerimis pagi itu mulai mereda ketika melintasi pasar kenari. Semua perasaan gundah itu hilang begitu saja. Aneh. Semuanya sirna kecuali kaca spion yang memantulkan bentuk mata sembab saya seolah tidak tidur selama berhari-hari. “Hey, kamu itu mau melakukan presentasi.”
saya berbisik sendiri. “Bagaimana bisa, dengan mata semacam itu?”
Ah, tidak apa-apa. Mata ini akan segera pulih kembali. Sebab, air mata yang baru saja dikeluarkannya itu memang untuk membasuh hati yang sudah buram ini. Sekarang, hati saya terasa ringan. Dan tiba-tiba saja, dia bisa melihat lebih terang. Mendengar lebih jelas. Dan berkata dengan suara yang lebih jernih. Saya sudah menemukan hati itu kembali.

Ketika saya menyeka wajah dihadapan cermin di toilet; saya melihat, mata itu sudah kembali seperti mata yang biasanya. Sama sekali tidak nampak disana sisa-sisa kegundahan. Yang ada, hanyalah perasaan lega. Karena hari ini, saya kembali diingatkan bahwa; hati tidak boleh dibiarkan mati.

Pagi itu, sebelum sesi presentasi dimulai, saya berkata kepada rekan yang bertugas menyiapkan slide-slide kami; “Tolong tambahkan satu slide lagi.”
“Isinya apa, Pak?” kata sahabat saya.
“Tuliskan disana: Bekerja Dengan Hati” kata saya. “Lalu, tolong carikan gambar hati, dan simpan di slide itu.” Kemudian sahabat saya melakukannya.
“Tolong jadikan itu sebagai slide pertama saya untuk presentasi pagi ini….” begitu saya menambahkan.

Ketika sesi itu tiba tepat jam sembilan pagi, saya memulainya dengan sebuah slide berisi gambar hati. Sungguh relevan dengan materi presentasi saya pagi ini, yaitu; memuliakan pelanggan. Memuliakan orang-orang disekitar kita. Dan memang benar. Langkah pertama yang harus kita lakukan untuk apapun adalah; membawa serta hati kita.

Bayangkan jika kita bisa membawa serta hati terhadap setiap pekerjaan yang kita lakukan. Apakah itu pekerjaan yang berhubungan dengan CRM seperti yang saya bawakan dipagi itu. Ataukah pekerjaan lain yang sehari-hari kita geluti. Pastilah, kita akan dengan ikhlas melakukannya. Benar, kita masih mengharapkan bayaran. Tidak apa-apa.
Sebab begitulah hukum pelayanan dalam konteks pekerjaan. Kita melayani. Dan orang yang kita layani memberikan bayarannya. Namun, dengan menyertakan hati kedalam pekerjaan; pastilah kita bersedia melakukan segala hal terbaik, untuk orang-orang yang kita layani. Tidak akan pernah terlintas dalam pikiran kita untuk melakukannya asal-asalan. Apalagi merugikan orang lain. Menipu. Menindas. Memperdayai. Menjerumuskan. Tidak.

Dengan membawa hati nurani; kita tidak hanya sekedar bekerja demi mendapatkan keuntungan pribadi. Dengan membawa hati nurani; kita pasti selalu bisa memberi nilai manfaat kepada diri kita sediri.
Kepada orang lain. Kepada perusahaan yang mempekerjakan kita. Dan, yang terlebih penting lagi adalah; kepada saat dimana kita harus berhadapan dengan sang pemberi hidup. Yaitu, saat dimana Dia bertanya kepada kita; Apa yang telah kamu lakukan dengan hidup yang kuanugerahkan kepada dirimu?.

dkadarusman

~ oleh oretankoe pada Juni 19, 2014.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: